Feeds:
Pos
Komentar

Perjalanan hidup terus menggelinding; dan roda peradaban zaman terus bergerak menyusuri jalan yang teramat panjang. Dalam putaran itu, pengetahuan terus bermekaran dan rajutan ilmu tiap hari selalu hadir menyapa tanpa kenal letih. Itulah kenapa segenap insan dituntut untuk bisa menjadi manusia-manusia pembelajar  : menjadi insan yang selalu terbuka dengan segenap wawasan baru dan limpahan informasi yang terus melaju. Menjadi insan yang selalu rindu untuk merengkuh sejumput pengetahuan, dan menjemput sekeping kebajikan dari bentangan ilmu yang terus mengalir.

Belajar disini tentu saja tidak hanya terbatas pada dinding-dinding sekolah atau kampus atau ruang seminar. Menurut pengalaman saya (yang mungin bersifat subyektif) menjadi pembelajar sejati justru paling efektif dilakukan melalui model self-directed learning. Bahasa kampungnya : belajar sendiri secara otodidak. Jika bicara mengenai self-directed learning (atau belajar secara otodidak), maka ada dua sumber fundamental yang hadir untuk merekahkan proses pembalajaran secara optimal.

Sumber yang pertama adalah : membaca. Lebih khusus lagi : membaca buku-buku bermutu (bukan membaca tabloid infotainment atau majalah lifestyle abal-abal).

Membaca buku-buku yang berkualitas, tak pelak, merupakan ritual indah yang akan selalu membawa kita terbang menjelajah dunia ilmu pengetahuan yang begitu menggetarkan. Bagi para pembelajar sejati, ritual membaca buku memang seperti sebuah persetubuhan yang menghanyutkan. Disana terjalin dialog pemikiran yang intim. Disana terbentang lenguhan gagasan yang terasa begitu eksotis. Dan disana pula kita bisa tenggelam dalam apa yang acap disebut sebagai “beautiful learning orgasm”.

Jadi, omong-omong, berapa jumlah buku atau majalah bermutu yang Anda baca dalam sebulan? Kata para pakar, sebaiknya empat. Namun kalau tidak bisa ya minimal satu dong. Jadi dalam setahun setidaknya ada 12 buku bagus yang kita kunyah dan pelajari. Akan lebih bagus lagi, jika setiap buku yang kita baca kemudian coba dituliskan rangkuman isinya. Kata ahli, menuliskan resume buku merupakan salah satu cara ampuh untuk meningkatkan pemahaman kita akan esensi buku secara lebih efektif.

Sumber utama kedua bagi proses self directed learning adalah ini : learn from our own experiences.Pengalaman adalah guru terbaik, begitu kata sebuah pepatah. Sungguh sebuah pepatah yang jitu. Benar, pengalaman – baik pengalaman positif atau lebih-lebih pengalaman buruk – selalu merupakan guru terbaik bagi proses pembelajaran kita.

Jika Anda seorang karyawan kantor, rangkaian penugasan dan pekerjaan yang Anda lakoni sungguh memberikan bentangan pengalaman yang berharga. Memang, pengalaman ini akan menjadi pelajaran yang berharga jika penugasan dan pekerjaan itu merupakan deretan tugas yang menantang, kompleks dan menuntut kapasitas kita secara maksimal. Rangkaian penugasan yang challenging itu niscaya akan menjadi proses pembelajaran yang sangat kaya bagi pengembangan diri kita.

Jika Anda seorang wirausaha atau calon wirausaha, proses ikhtiar Anda untuk membuka usaha, mencari pasar, membuat produk Anda laku, sungguh merupakan rute pembelajaran yang sangat kaya nan berharga. Coba, gagal, coba lagi, gagal lagi, terus mencoba, terus berusaha, terus gigih bertahan mencari siasat agar bisnis terus bertahan dan tumbuh. Proses yang keras dan melelahkan ini, kadang menguras emosi dan dana yang tak sedikit, tentu merupakan arena pembelajaran yang ampuh. Sebuah arena untuk mendidik kita menjadi insan pembelajar yang sukses dan produktif.

Demikianlah dua sumber utama proses pembelajaran secara mandiri (otodidak). Belajar melalui buku untuk terus meluaskan wawasan. Dan belajar melalui pengalaman nyata untuk mewujudkan impian menjadi insan yang sukses.[]

Sumber: http://strategimanajemen.net/2010/06/28/menjadi-manusia-pembelajar/

Iklan

Jalan Baru

Tak terasa bulan Februari hampir lewat. Bulan kedua dari total 12 bulan yang akan Anda lalui boleh jadi dengan beragam resolusi yang Anda harap bisa tercapai dan membawa kebahagiaan di hidup Anda. Resolusi-resolusi baru, atau resolusi tahun lalu yang mungkin tahun ini kembali menjadi resolusi Anda karena di tahun lalu apa yang Anda citakan belum juga tercapai. Hmm.. jika memang sampai ada resolusi ulangan, semoga saja cara yang dipakai tidak ulangan juga. Melainkan ada cara-cara baru, cara-cara segar, cara-cara yang lebih kreatif yang memungkinkan Anda untuk bisa mencapai apa yang Anda cita-citakan. Seperti kalimat Einstein yang sangat terkenal itu; “Hanya orang gila yang menggunakan cara yang sama dan berharap mendapatkan hasil yang berbeda.” Jadi kalau Anda mau karirnya naik misalnya, lihatlah kembali usaha yang sudah Anda lakukan. Bagaimana Anda membekali diri Anda dengan wawasan, bagaimana Anda mengemas penampilan Anda, sejauh mana mana pergaulan Anda, sebaik apa perilaku dan tindak-tanduk Anda. Boleh jadi itu adalah beberapa item yang perlu Anda perhatikan. Lihatlah kembali bagaimana sesungguhnya performa kerja Anda selama ini, Anda ini si disiplin atau si teladan, telat datang pulang duluan? Anda ini si problem solver atau si trouble maker? Anda ini si pengejar prestasi atau si penggerutu komisi? Hayo, yang mana nih kira-kira? Atau Anda mau supaya bisnis Anda berkembang secara siginifikan, cek dulu ya bagaimana Anda menjalankan bisnis Anda. Strategi seperti apa yang Anda gunakan selama ini, kesalahan apa yang terus saja berulang di bisnis Anda, bagaimana Anda memperlakukan tim Anda, klien Anda dan mitra bisnis Anda? Atau bagaimana pula Anda mengelola keuangan di bisnis Anda. cek bagaimana Anda mengatur keuangan Anda dan pastinya gaya hidup Anda. Anda ini si penabung uang atau si penghambur uang? Rekening Anda cuma selalu jadi tempat gaji Anda numpang lewat tak berbekas, atau bagaimana? Anda aktif meningkatkan saldo pemasukan di kocek Anda, atau Anda justru lebih aktif meningkatkan saldo tagihan di kartu kredit Anda? Bagaimana? Nah, mumpung masih di awal tahun, review-lah kembali bukan hanya resolusi Anda, melainkan juga strategi dan cara-cara yang akan Anda gunakan untuk bisa mencapainya. Pastikan bahwa Anda telah dimotori oleh cara-cara baru, dan jangan lupa, teruslah pula didorong dengan semangat yang selalu baru. By Jamil Azzaini.

Kisah bermula di sebuah Kongres Anggota Tubuh Manusia. Pak Jantung memimpin sesi sidang “Pemberian Penghargaan Pada Anggota Tubuh Manusia Terpenting Tahun ini”. Dalam pidato pengantarnya, Pak Jantung berkata ,”Saudara-saudaraku sesama anggota tubuh, sebagaimana kita tahu tuan kita sangat menginginkan kinerja kesehatannya meningkat tahun ini. Peningkatan ini hanya mungkin, kalau kita semua memperbaiki kinerja masing-masing. Nah, untuk memicu dan memacu peningkatan kinerja itu, tuan kita berkenan memberikan penghargaan kepada anggota tubuh terpenting. Untuk itu, kita harus menentukan siapa di antara kita yang layak untuk mendapatkannya.”

Sidang seketika hening. Semua bingung karena sulit untuk menentukannya. Mas Mata merasa dirinya paling penting, karena tanpa dirinya, tuannya pasti akan kelimpungan ketika berjalan. Jeng Bibir juga merasakan hal yang sama, karena dialah juru bicara andalan tuannya. “Coba kalau saya mogok kerja, pasti tuan dikira bisu!”. Pak Jantung tak mau kalah. “Kalau saya mau mogok kerja 1 detik saja, dunia pasti kiamat Bung!” Akhirnya, ruangan kongres pun gaduh. Gaduh sana dan gaduh sini.

Sesaat kemudian, Pak Jantung mengetuk meja sidang. “Diam semua. Setelah saya pikirkan masak-masak, sulit bagi kita untuk mencari siapa yang paling penting. Bagaimana kalau sebaliknya, kita cari saja siapa yang paling tidak penting” Pak Jantung berbicara semangat sekali sambil melirik salah satu peserta yang pendiam, yakni Bang Lubang Kentut. Upsss. Tak dinyana, semua koor, “setujuuuu!” Akhirnya secara aklamasi, pilihan jatuh bulat-bulat pada – siapa lagi kalau bukan – Bang Lubang Kentut! Serta merta Bang Lubang Kentut protes mengajukan PK, Peninjauan Kembali. Tapi sia-sia saja. Protes Bang Lubang Kentut tenggelam dalam keriuhan sidang. Dan tak lama sidang pun usai.
Bang Lubang Kentut terdiam. “apa yang aku lakukan untuk tuanku, ternyata tak berharga sama sekali”, batinnya. “Baiklah. Akan aku tunjukkan bahwa apa yang mereka putuskan itu salah besar!”

Maka, mulailah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sang tuan pun demam. Kadang panas kadang dingin. Satu per satu anggota tubuh unjuk sakit. Pak Jantung mengeluh, detak jantungnya lain dari biasanya. Yang biasanya berirama pop, kok mendadak berubah ada cengkok dangdutnya. Jeng bibir meradang, setiap kali bertugas pasti orang di sekitar tuannya ramai-ramai menutup mulutnya masing-masing. “Ada bau tak sedap”, kata mereka. Mas Mata juga begitu. “Aku sering kelilipan dan berkunang-kunang, padahal tak ada kunang-kunang yang hinggap pada diriku. Kenapa ya?” Lalu, semua berkumpul. “Ya…ya…ya… kami juga!” Sungguh tidak seperti biasanya.

Mereka pun menunjuk tim investigasi untuk menuntaskan kasus ini. Setelah mendapat petunjuk dari sejumlah saksi, tim pun menangkap Bang Lubang Kentut sebagai satu-satunya tersangka. Akhirnya, di hadapan majelis hakim, Bang Lubang Kentut pun mengakui bahwa ini semua terjadi karena dirinya melakukan mogok kerja. Jika tuannya ingin kentut, ia tak merespon. Kalau tuannya ingin BAB, ia cuek saja. Pokoknya ibarat keran air, dirinya mengunci rapat-rapat keran itu. Mbah Kumis, ketua majelis hakim yang berwibawa pun bertanya, “Jujurlah padaku. Apa sebenarnya yang kamu inginkan ?

Bang Lubang Kentut terbata-bata, “saya ingin menyadarkan semua pihak, meskipun posisi saya di bawah, tak elok dipandang, bukan berarti saya lantas tidak penting. Semua anggota tubuh sama pentingnya. Sudah sepantasnya kita saling sinergi sesuai dengan core-nya masing-masing”.

Sukses itu didapat dari bersinergi, bukan berseteru. Begitu juga dalam bisnis kita. Nah, cobalah.

Dikutip Buku Motivasi Metanoiac Islami
Be The Best, not ‘be asa’, M. Karebet Widjajakusuma, Gema Insani

 Jika Anda ingin menjadi master di bidang tertentu ingatlah kata-kata ini: “Berfokuslah pada satu hal atau keterampilan dengan kesetiaan tanpa henti untuk terus melakukan perbaikan, dan berkeinginan kita menjadi yang terbaik“. Fokus!! Perbaikan tiada henti dan keinginan kuat menjadi yang terbaik adalah bahan bakar utama untuk menjadi seorang spesialis. Dan sebagian mayoritas orang besar berasal dari seorang spesialis.

B.J. Habibie adalah seorang spesialis di bidang pesawat terbang. Apakah kesuksesannya murni merupakan karunia alam? Tentu saja jawabannya tidak. Ia mengambil apa yang diberikan alam kepadanya dan menjalankan formula tadi; fokus ditambah perbaikan terus tiada henti dan keinginan kuat untuk menjadi yang terbaik.  Lelaki kelahiran Pare-Pare ini tidak ingin menjadi yang terbaik di lima bidang yang berbeda. Misalnya, ia tidak ingin ahli di bidang kereta api atau kendaraan berida empat. Mantan Presiden RI ke tiga ini hanya ingin hebat pada bidang pesawat terbang.  Dan ia berhasil.

Michael Jordan fokus pada basket. Cristiano Ronaldo fokus pada sepakbola. Muhamad Yunus fokus pada microfinance. Bill Gates fokus pada software development computer, Dedi Mizwar fokus pada film. Yusuf Mansur fokus pada ilmu sedekah. Hermawan Kertajaya fokus pada dunia marketing. Mereka dan banyak orang lainnya tidak memecah fokus yang ditekuninya. Dan mereka berhasil.

Thomas A Edison mendaftarkan 1.093 paten. Ia juga menemukan bola lampu hingga gramofon. Lelaki yang pernah dicap idiot oleh gurunya ini tidak mencoba untuk menjadi pedagang besar, penyair terkenal, dan musisi ternama. Ia hanya berfokus pada penemuan-penemuannya.  Ia juga memperbaikinya setiap hari. Dan selalu terdorong untuk menjadi penemu hebat dan memberi manfaat bagi dunia.  Selanjutnya, ia membiarkan waktu yang menciptakan keajaiban. Dan ternyata, keberhasilan mengetuk pintu bagi orang-orang yang memang fokus pada bidangnya. Mereka para spesialis.

Mungkin Anda ingat akan kisah Pablo Picasso. Suatu hari, seorang wanita melihatnya di pasar dan ia mengambil secarik kertas. ”Tuan Picasso, saya adalah penggemar Anda. Maukah Anda menggambar sedikit untuk saya?” Picasso dengan gembira memenuhi permintaan itu dan menggoreskan sebentuk seni di atas kertas yang diberikan. Sambil tersenyum ia mengembalikan kertas itu sambil berkata, ”Nilai kertas ini bisa jutaan dolar lho.”  Wanita itu bingung dan berkata, ”Tapi tuan Anda hanya perlu waktu 30 detik untuk menghasilkan mahakarya ini.” Sambil tertawa Picasso menjawab, ”saya membutuhkan waktu 30 tahun agar dapat menghasilkan mahakarya dalam waktu 30 detik.”

Ketahuilah apa kelebihan Anda. Temukan talenta Anda, lalu berusaha keraslah sekuat tenaga untuk memoles talenta Anda. Ketahuilah apa yang menjadi bagian terbaik dalam hidup Anda. Anda sangat ahli dan menyenangi hal itu.  Bahkan Anda terkadang gelisah ketika Anda tidak melakukan hal itu.  Mungkin Anda seorang komunikator yang jago dalam bergaul. Mungkin Anda ahli dalam hal memperlancar keadaan. Mungkin Anda seorang inovator yang mampu melahirkan sesuatu yang baru. Mungkin Anda orang yang tekun menjalankan bisnis walau hasilnya kecil namun volumenya besar. Atau Anda seorang yang ahli memberikan nilai tambah sehingga Anda mampu menjual produk yang sama namun dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Temukan kelebihan Anda, lalu kembangkan. Fokuslah pada kelebihan Anda dan terus menerus diasah, lakukan perbaikan terus menerus, dan berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang Anda. Saya yakin tak lebih sepuluh tahun dari sekarang Anda akan menjadi orang yang hebat di bidang Anda. Mungkin orang akan membicarakan atau menulis tentang Anda.

Mari bertaruh dengan saya. Jika Anda sudah menemukan talenta Anda dan mencurahkan waktu setiap hari untuk mengasah talenta itu dan terus menerus memperbaikinya  serta berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang itu, tak lebih dari 10 tahun yang akan datang Anda telah menjadi seorang yang hebat.  Ketika itu bawalah hadiah kepada saya, karena saya telah memenangkan pertaruhan ini. Bila Anda gagal, itu karena Anda ingin hebat disemua hal sehingga fokus Anda pecah. Akhirnya Andapun tak mendapatkan semua hal itu. Sumber : Jamil Azzini

Saudaraku, memang benar dengan focus maka kita akan mempunyai kekuatan. Fokus pulalah yang mengantarkan sebuah hasil yang luar biasa. Namun hal menarik yang harus kita jawab adalah ketika kita tidak focus pada apa yang kita lakukan. Menurut Anda, apa sih penyebab kita tidak focus dengan apa yang kita lakukan? Apakah kita tidak focus karena tidak yakin dengan karir yang kita jalani, karena kita tidak jelas apakah benar karir kita mengantarkan pada kesuksesan atau justru sebaliknya? Atau kita tidak senang dengan apa yang kita jalani saat ini? Atau ada  alasan lain? Silakah share dan saya tunggu komentar Anda!

Agar Hidup Lebih Bermakna

Life begin at 40, kata kebanyakan orang.  Usia saya sudah satu tahun melebihi angka itu. Jadi saya sudah menempuh setengah lebih perjalanan hidup, itupun bila Sang Pemberi Hidup mengizinkan saya menapak di bumi melebihi usia 70 tahun.  Kematian itu misteri, tak ada yang tahu kapan dia akan datang. Duh, andaikan dia datang menjemputku hari ini, bekal apa yang bisa saya bawa pulang?
Bila ingat hal itu, saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Saya menghindar dari orang-orang yang lebih sering berkata negatif, menjelek-jelekkan orang lain sambil menunjukkan dirinyalah yang hebat.  Saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk lebih mencintai dan memperhatikan istri, anak, orang tua dan saudara-saudara saya.

Saya juga ingin semakin cepat mewujudkan bintang terang atau mimpi-mimpi hidup. Semakin tua, saya semakin senang membaca artikel tentang kesehatan, kematian dan kisah hidup banyak orang.  Dan lebih dari semua itu, saya ingin semakin dicintai penduduk langit dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi penduduk bumi.
Semakin mendalami hal itu saya semakin yakin bahwa sebelum kita ”pulang” dijemput kematian, kita harus meninggalkan sesuatu yang berarti bagi keluarga, sahabat dan komunitas. Sesuatu yang berarti bukanlah selalu harta. Banyak orang besar dunia yang telah tiada, dikenang bukan karena warisan kekayaannya. Mereka dikenang karena ”membebaskan” kebodohan, penindasan, kemiskinan.  Mereka dikenang karena telah banyak mengubah makna hidup yang lebih hakiki dan penuh arti. Mereka juga dikenang karena bisa dijadikan tauladan kebaikan, perjuangan, kontribusi dan kegigihan menjalani hidup.
Untuk menuju hidup yang lebih bermakna, saya menyarankan Anda untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang akan selalu menginspirasi dan memprovokasi hidup Anda.  Saya sudah mempelajari banyak kehidupan orang hebat, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada.  Salah satu kelebihan mereka dibandingkan yang lain adalah mereka lebih disiplin melakukan refleksi dan introspeksi diri.  Jadi, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan yang berharga dalam hidup Anda. Kualitas pertanyaan akan mengarahkan kualitas kehidupan Anda.
Kebanyakan orang tidak pernah tahu bagaimana cara menjalani hidup, dan baru mengetahuinya ketikan kematian telah dekat. Namun pada saat itu benar-benar sudah terlambat.  Maka segeralah ajukan pertanyaan-pertanyaan penting dalam kehidupan Anda.

Untuk membantu Anda, saya biasanya mengajukan lima pertanyaan untuk diri sendiri setiap pagi dan menjelang tidur. Ajukanlah pada diri sendiri kelima pertanyaan itu, hari ini juga.  Tuliskanlah jawaban Anda dalam buku jurnal atau buku harian yang Anda miliki.  Renungkan…, pikirkan…, dan diskusikan jawaban itu dengan diri Anda sendiri.
Bayangkan bahwa hari ini adalah hari terakhir dalam hidup Anda dan sang penjemput kematian telah menunggu di depan rumah. Lalu bertanyalah pada diri sendiri:
a.    Apakah saya sudah mewujudkan banyak prestasi dalam hidup?
b.    Apakah saya menjalani kehidupan dengan sepenuh hati?
c.    Apakah saya mencintai dengan baik orang-orang di sekeliling saya?
d.    Apakah dunia yang kutinggalkan jauh lebih baik dibandingkan ketika saya hadir di muka bumi? Apa yang sudah saya perbuat?
e.    Apakah Sang Pencipta tersenyum menyambut saya ”pulang”?

Saya berharap jawaban-jawaban Anda akan membantu Anda menjalani hidup dengan penuh makna, bergairah, dan bersuka cita. Berpikirlah jernih, bahwa kita hadir dimuka bumi ini bukan untuk menjadi beban bagi orang lain, kita hadir untuk memberikan arti dan makna. Jangan tunda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas hari ini juga.   Bukankah pepatah China mengatakan ”Hari terbaik pertama untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Dan hari terbaik kedua adalah hari ini” Saya yakin Anda tak ingin kehilangan hari terbaik kedua itu. Jadi, jawablah dan tuliskanlah jawaban Anda hari ini juga!

Sumber : Jamil Azzaini

Saya sangat mensyukuri pekerjaan yang saya jalani saat ini, seorang inspirator. Saya merasa beruntung karena sering bertemu dengan orang-orang yang menarik.  Saya bertemu dengan mahasiswa yang cerdas, pengusaha yang visioner, CEO yang handal, guru hebat,  karyawan terbaik, artis, serta komisaris yang terus ingin perusahaannya tumbuh dan beranak pinak. Dalam setiap pertemuan dengan mereka, selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari dan membentuk pola berpikir saya.

Diantara orang-orang yang saya temui ada yang tampak sukses dan hebat namun sebenarnya kehidupannya rapuh.  Ia seorang General Manajer (GM) di sebuah perusahaan ternama.  Ia merasa hidupnya hampa.  Rasa hormat yang ia peroleh hanya formalitas belaka.  Kehidupan berkeluarganyapun monoton dan gersang.  Ia merasa hidup sendiri dalam keramaian.  Jabatan yang lumayan tinggi dan depositonya di berbagai bank tidak cukup membuatnya bahagia. 

Sampai suatu ketika, saya mengajak orang ini bertemu dengan para pengusaha kecil yang saya bina dan orang-orang miskin yang saya bimbing untuk berusaha mentas dari jurang kemiskinan. Saya ajak ia menginap di gubuk mereka, makan dan beraktifitas bersama mereka. Awalnya saya menduga dia akan menolak. Tapi ternyata dia berkenan menginap bahkan saya merasa ia sangat menikmati kunjungan itu. Keesokan harinya kami berpisah.  Sebelum berpisah dengan saya ia mengatakan “mas sekarang saya sudah mulai menemukan kunci kebahagiaan dan tunggu enam bulan dari sekarang saya akan datang menemui mas Jamil dengan kehidupan yang lebih bahagia.” Tanpa menjelaskan apa makna pernyataannya itu, ia pergi meninggalkan saya.

Enam bulan kemudian, ia menepati janjinya.  Dengan wajah yang sumringah dan pancaran mata yang bersinar ia menyodorkan sebuah kertas yang berisi tulisan: Oprah Winfrey melakukan ekspirimen kepada pemirsanya pada tahun 1997. Dia meminta permisanya tersebut untuk menggunakan uang sebesar $1000 yang seharusnya mereka akan gunakan untuk liburan. Sebagai gantinya uang itu digunakan untuk meringankan beban orang lain, apapun itu. Bisa untuk menyekolahkan anak yang tidak mampu, membelikan obat, memberi makan, apapun boleh selama bisa memberikan manfaat kepada penerimanya. Hal ini dilakukan ketika masa liburan.

Dan setelah masa liburan berakhir, Oprah mengundang mereka untuk tampil pada acaranya dan menceritakan pengalaman yang mereka peroleh pada masa liburannya. Ternyata semua mengatakan bahwa mereka belum pernah merasa lebih bahagia, lebih bermakna, dan apa yang diperoleh dengan $1000 yang mereka berikan pada orang lain itu jauh melebihi kebahagiaan yang mungkin akan diperoleh apabila mereka habiskan untuk berlibur.

Usai membaca tulisan itu saya bertanya, “Apa ini maknanya buat Anda dan saya?” Dengan penuh gairah ia menjelaskan, “Ternyata kunci kebahagiaan itu bukan hanya melipahnya harta yang kita miliki, bukan pula tingginya kekuasaan yang bisa kita gunakan.  Namun, seberapa jauh harta dan kekuasaan yang kita miliki itu memberi makna dan manfaat untuk orang-orang di sekitar kita.”

Dari obrolan selanjutnya dengan lelaki cerdas itu, saya memperoleh pelajaran bahwa kebahagiaan terwujud ketika Anda memulai sesuatu yang tidak akan berakhir meskipun hidup Anda telah berakhir.  Itu semua bisa terjadi tatkala keberadaan Anda memberi makna untuk orang-orang di sekitar Anda. Hidup bukanlah hanya tentang diri dan keluarga Anda semata.  Hidup juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain. Berilah perhatian pada orang lain. Renungkanlah kontribusi apa yang akan Anda berikan hari ini untuk orang-orang di sekitar Anda? Kebaikan apa yang akan Anda tawarkan hari ini? Penyakit sosial apa yang akan Anda sembuhkan?

Orang-orang besar dunia yang tercatat dalam sejarah, ternyata mereka meninggalkan tanda di alam semesta. Hidupnya bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.  Mereka berpikir bagaimana agar kehidupan di dunia ini jauh lebih mudah, lebih cepat, lebih sehat, lebih sejahtera, lebih damai, dan lebih bermartabat. Itulah tanda yang mereka tinggalkan.  Mereka telah tiada, namun namanya tetap ada di alam semesta.  Saya jadi teringat ucapan Mel Gibson dalam film Braveheart: “Setiap orang akan mati.  Tapi hanya sedikit dari kita yang akan terus hidup.” Mereka yang tetap hidup adalah mereka yang meninggalkan tanda di alam semesta. Semoga Anda termasuk di dalamnya.

Salam Sukses Mulia

Sumber : Jamil Azzaini

Belajar Bisnis dari Anekdot

Menjalankan kegiatan bisnis tidak pernah sepi dari tantangan dan hambatan. Termasuk hari ini. Baik menyangkut masalah permodalan, sumberdaya manusia, pemasaran maupun perijinan. Tapi bagi pebisnis muslim kiranya tantangan terbesar adalah bagaimana menjalankan bisnis dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam di tengah-tengah  suasana bisnis dalam sistem kapitalistik yang menghalalkan segala cara.  Tentu saja jalan belum tertutup sama sekali. Bahkan masih cukup banyak peluang terbuka bagi pebisnis muslim yang mencoba untuk sukses tanpa harus melanggar syariah. Pun termasuk saat bisnis agak redup.

Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Alam Nasyrah : 6)

Muslimpreneur, saat kinerja bisnis kita menurun, seringkali kita tidak melakukan muhasabah atau koreksi mendalam sebagaimana yang seharusnya. Boleh jadi, tanpa disadari, kita malah sibuk mencari celah pembenar atau bahkan dalih pembalik fakta.  Akhirnya, kita malah melindungi kegagalan dengan ‘keberhasilan semu’, bukan malah memperbaikinya.  Kita terjebak pada kesombongan. Sesuatu yang malah akan menjadi titik kejatuhan.

Seperti anekdot yang ditulis oleh Bonnie Triyana, seorang sejarawan-cum-wartawan di salah satu media ibukota, Januari 2009 lalu. Ia menuliskan “Syahdan, dalam suatu pertemuan arkeolog internasional, arkeolog Amerika melaporkan bahwa mereka telah menggali lubang sedalam 3 meter dan menemukan serat tembaga di dalam galian. Atas penemuan itu, mereka mengklaim  bahwa sejak 350 tahun lalu penduduk asli Amerika telah menggunakan telepon… Sementara itu arkeolog Israel mengklaim telah menemukan pecahan gelas di dalam lubang sedalam 4 meter di dekat Tepi Barat, dan berdasarkan temuan yang mirip dengan serat optik itu, mereka menyimpulkan bahwa 400 tahun yang lalu orang Yahudi sudah menggunakan internet. Arkeolog Indonesia tak mau kalah. Mereka melaporkan telah menggali tanah sedalam lima meter di Trowulan dan tidak menemukan apa-apa. Maka, disimpulkan bahwa 500 tahun yang lalu Gadjah Mada sudah menggunakan handphone.”

Tulisan Bonnie sebenarnya diarahkan untuk menganalisis iklan politik klaim keberhasilan pembangunan oleh pemerintah. Namun, anekdot ini juga dapat dimaknai dengan interpretasi lain. Intinya, sindiran ini agaknya mengingatkan bahwa kita lebih suka melihat dan bangga atas klaim capaian hasil yang positif – sekalipun tak sepenuhnya positif – ketimbang berintrospeksi atas sejumlah capaian negatif – kalau tak mau disebut kegagalan.

Maka, saat kinerja bisnis turun atau ada tanda-tanda menurun, kita mesti sabar dan segera muhasabah apa yang sebenarnya terjadi hingga didapatkan faktor-faktor penyebabnya.  Boleh jadi, ada di faktor reputasi yang tercoreng karena delivery time yang tak lagi tepat. Bisa juga karakter bisnis yang kita bangun cenderung instan, rentan akan gangguan. Mungkin juga kita tidak konsentrasi di bisnis yang kita kuasai, sementara belum pernah terdengar kisah sukses pengusaha yang berada dalam bidang yang tidak dikuasainya sama sekali. Atau, boleh jadi, bisnis kita berada di tengah kerumunan begitu banyaknya pemain sejenis, hingga makin hari makin sulit bernafas. Atau juga, kita terlalu fokus pada modal uang, sementara, modal keahlian, jaringan, nama baik, penguasan teknologi, pengetahuan mengenai pasar tidak kita kuasai.

Dari situlah kemudian, kita bisa susun solusinya secara tepat. Lalu, mainkan program aksinya. Rumusnya, tetap harus ada (1) motivasi bisnis untuk meraih bisnis penuh ‘berkat’ dan berkah, (2) doa ‘sapu jagat’ agar bisnis kita membahagiakan kita di dunia dan akhirat nanti, (3) ikhtiar perbaikan dan improvisasi tiada henti karena bisnis tidak stagnan tapi terus dituntut untuk lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi, serta (4) tawakkal yang kita letakkan di depan, di tengah dan di akhir proses bisnis kita.

Tetap semangat !

Source : http://www.pengusaharindusyariah.com